INJIL MASUK PAPUA
Peringatan Injil Masuk Papua Ke 156 Tahun
Tanggal
5 Februari merupakan hari bersejarah bagi jutaan umat Kristiani di
Tanah Papua karena pada tanggal tersebut adalah hari masuknya Pekabaran
Injil di Tanah Papua. Injil pertama kali masuk di Pulau Mansinam, Teluk
Doreh di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat,
pada 5 Februari 1885 lalu. Injil masuk melalui dua misionaris asal
Belanda dan Jerman, yakni Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob
Geissler.
Peringatan Injil Masuk Papua yang ke 156 pada sabtu 5
Pebruari 2011 di peringati dengan ibadah syukur di Stadion Mandala
Jayapura pukul 08.30 Wit dihadiri oleh ribuan umat Kristen dari berbagai
denominasi gereja yang ada di Tanah Papua ini. Acara Ibadah bersama ini
juga dimeriahkan dengan berbagai tari-tarian, musik dan paduan suara
dari gereja-gereja.Selain dihadiri oleh umat Kristen di Jayapura, pada acara ibadah syur itu dihadiri Gubernur Provinsi Papua Barnabas Suebu, SH, pejabat-pejabat pemda Provinsi Papua dan Badan pekerja Am Sinode serta Pendeta-Pendeta dari berbagai denominasi gereja.
Dalam
sambutannya Gubernur Provinsi Papua Barnabas Suebu meminta seluruh
masyarakat di Tanah Papua untuk tetap menjaga kerukunan hidup antar umat
beragama. “ Masyarakat di Tanah Papua ini adalah masyarakat yang
majemuk baik suku, agama maupun budaya oleh sebab itu harus mampu membina kerukunan hidup antar umat beragama”. ujar Gubernur
Menurut
gubernur, setiap kelompok umat beragama harus senantiasa memahami
sejarah Pekabaran Injil dan perkembangan agama-agama di wilayah ini dan
atas kesadaran akan sejarah itulah maka mereka pun saling menghargai
satu sama lain.
“Kekuatan Injil terbukti dapat mempersatukan berbagai suku dan budaya, sehingga dapat duduk bersama,” tandasnya.
Barnabas
Suebu mengatakan, perjalanan sejarah kehidupan masyarakat/umat beragama
di Papua tidak memungkiri peristiwa berkaryanya para misionaris
(Katolik) dan zending (Protestan) di wilayah ini sejak Papua belum
berintegrasi dengan Indonesia.
“Jasa
Gereja bagi perkembangan hidup masyarakat asli Papua terukir dengan
tinta emas. Sejarah ini tidak boleh dilupakan atau sengaja dilupakan
dalam derap pembangunan Tanah Papua,” ujarnya.
Sejarah
juga membuktikan bahwa masyarakat asli Papua bersikap menerima dengan
ikhlas kehadiran saudara-saudara dari agama lain yang banyak berdatangan
dari wilayah lain di Indonesia.
Sikap
toleran masyarakat asli Papua yang sebagian besar memeluk agama Nasrani
(Katolik dan Protestan) patut dipuji karena di sinilah ditemukan
masyarakat dari berbagai suku dan tradisi serta budaya di Indonesia dan
di sini pula terdapat kemajemukan hidup beragama.
“Kerja
sama dan kerukunan antarumat beragama terpelihara dengan baik. Hal
inilah yang memungkinkan Provinsi Papua hingga kini berada dalam situasi
yang aman dan damai,” ujar Barnabas Suebu.
Gubernur
meminta agar kerukunan dan toleransi hidup antarumat beragama ini harus
tetap dipelihara dengan baik apabila semua komponen bangsa Indonesia
masih menginginkan Papua tetap dalam bingkai NKRI.
Itu
berarti, semua kebijakan pembangunan, keputusan politik apapun yang
diambil untuk masyarakat Papua oleh pemerintah harus tetap memperhatikan
sejarah masuknya agama-agama, tradisi dan kebudayaan masyarakat asli
Papua, keberpihakan terhadap masyarakat asli Papua, pemberdayaan
masyarakat asli Papua dan penciptaan kemandirian di kalangan orang asli
Papua.
Sementara
itu Pdt Hiskia Rollo, Sekretaris Am Sinode mengatakan, peristiwa
Pekabaran Injil masuk tanah Papua yang dibawa dua penginjil Ottow dan
Geisseler pada 5 Februari 1855 di Pulau Mansinam, telah menjadi tonggak
sejarah masyarakat Papua dalam hal pengabaran Injil.
“Masyarakat
Papua harus bersyukur atas kehadiran kedua penginjil yang telah
menyebarkan ajaran Yesus Kristus kepada masyarakat di tanah Papua,
karena merekalah masyarakat Papua boleh mengenal sang Juruselamat yaitu
Yesus Kristus,” katanya.***
Tidak ada komentar:
Write Kawan-kawan silakan tinggalkan komentar